Tentang Kelahiran Magani

Alifa Widhi Magani. Itulah nama bayi perempuan mungil kami yang lahir melalui persalinan normal di Rumah Sakit JIH, Jogjakarta di hari Senin, 2 Juni 2014. Kami panggil ia Magani.

Cerita kelahirannya sendiri menjadi cerita tak terlupakan karena akhirnya saya merasakan sendiri bagaimana rasanya kontraksi dan menunggu pembukaan lengkap sampai akhirnya si bayi lahir. Sebetulnya sejak awal kehamilan saya berencana untuk melahirkan di Serpong saja karena secara infrastruktur, rumah saya di Serpong lebih siap untuk kehadiran bayi, dan saya sudah menemukan dokter kandungan yang cocok di RS Eka Hospital BSD. Tapi seiring berjalannya waktu dan pemikiran realistis bahwa nanti di Serpong tidak ada yang bisa membantu saya merawat bayi, akhirnya di usia kehamilan 37 minggu, saya dan suami sepakat memutuskan bahwa saya akan melahirkan di Jogja saja.

Tidak ada masalah berarti sejak awal kehamilan, mual yang saya rasakan masih bisa saya atasi, dan ketika usia kehamilan 28 minggu, dokter menyatakan posisi bayi saya masih sungsang, tapi saya masih punya waktu untuk mengusahakan si bayi berada dalam posisi seharusnya. Saya rajin mempraktekkan anjuran dokter dengan memperlama posisi sujud dan alhamdulillah di minggu ke 32, kepala bayi saya posisinya sudah di bawah. Di minggu ke 32 itu saya juga melakukan perjalanan dengan pesawat udara ke Balikpapan, karena kebetulan ada yang harus saya dan suami urus disana. Perjalanan menggunakan pesawat udara sendiri berjalan lancar, si bayi dalam kandungan tenang-tenang saja sampai saya kembali ke Jakarta.

Di minggu ke 36, saya melakukan kontrol kandungan ke dokter saya di RS. Eka Hospital dan ternyata bayi saya kembali sungsang, padahal sebelumnya posisi sudah di bawah. Saya diarahkan untuk operasi caesar karena usia kandungan sudah di minggu-minggu akhir dan bayi belum berada dalam posisi seharusnya. Saya dan suami sempat shock dengan vonis dokter tapi kami masih punya keyakinan bahwa si bayi akan segera memposisikan dirinya dan saya tidak perlu dioperasi caesar. Kembali saya rajin berlama-lama dalam sujud, kemudian mendengarkan murottal atau musik klasik dengan memposisikan headset di perut bagian bawah. Saya juga mencari tahu lewat grup gentle birth di facebook tentang bayi yang sungsang dan bagaimana memberi affirmasi positif selama kehamilan. Saya terus mengajak bayi bicara dan memintanya untuk memutar posisi ke bawah. Satu minggu setelah divonis dokter, saya melakukan perjalanan darat ke Jogja bersama suami. Karena usia kandungan sudah 37 minggu, perjalanan yang kami lakukan bisa dikatakan beresiko, tetapi kami terus memberikan sugesti positif bahwa kami akan sampai di Jogja dengan selamat.

Setibanya di Jogja, saya segera kontrol kandungan ke RS. JIH dan diperiksa oleh dr. Enny. Ketika di-USG, alhamdulillah posisi bayi sudah di bawah dan sudah masuk panggul. Alhamdulillah, usaha saya tidak sia-sia 😁😁. Hanya saja dr. Enny menyarankan untuk menambah berat badan saya sebanyak 3 kg karena kenaikan berat badan saya hanya 7,5 kg selama kehamilan. Padahal selama ini sudah makan banyak dan berkali-kali tapi kenaikan berat badan saya masih di bawah standar, yaitu 11-13 kg.

Karena saya memang bercita-cita melahirkan normal, segala cara saya upayakan seperti rajin berjalan-jalan setiap pagi, kemudian ikut senam hamil dan yoga hamil. Saya juga membeli bola yoga di Klinik Bidan Kita, Klaten, dan sempat mengikuti satu sesi yoga hamil di sana.

Selama menunggu kontraksi, saya masih rajin pergi ke mall 😜😁, kebetulan suami juga sudah mengambil cuti kerja karena ingin menemani saya melahirkan. Tapi hingga di akhir masa cutinya, saya tidak menunjukkan gejala kontraksi, dan suami memutuskan untuk membeli tiket travel untuk pulang ke Batang di keesokan harinya.

Di hari Minggu pagi tanggal 1 Juni, saya dan suami pergi untuk membeli tiket travel tetapi sebelumnya kami mampir ke warung soto langganan untuk sarapan pagi. Ketika sedang makan itulah saya mulai merasakan mulas. Karena belum pernah mengalami kontraksi, saya ragu-ragu apakah mulas ini kontraksi palsu atau kontraksi yang sebenarnya. Kemudian saya mulai menghitung intensitas kontraksi dan jarak antar kontraksi setiap 30 menit sekali dengan durasi setiap kontraksi kurang dari satu menit. Suami memutuskan menunda membeli tiket travel dan kami segera pulang ke rumah. Di rumah, rasa mulas bertambah kuat tapi intensitas dan durasi tetap sama. Saya kemudian melakukan goyang inul dengan bola yoga untuk mempercepat kontraksi dan membuat posisi bayi semakin turun ke bawah. Semakin siang rasa kontraksi semakin kuat dan saya minta suami untuk mengantar ke rumah sakit. Setelah mandi dan sholat ashar, kami berangkat ke RS. JIH dan segera menuju UGD. Setelah itu perut saya dipasang CTG (cardiotocography) untuk mengukur intensitas dan kuatnya kontraksi. Kontraksi saya sudah setiap 15 menit sekali tetapi menurut CTG kontraksinya masih lemah. Tidak ada flek darah sama sekali dan suster kemudian melakukan pemeriksaan dalam dan baru masuk pembukaan satu. Padahal sudah sesiangan saya merasakan kontraksi tapi masih pembukaan satu. Bagaimana rasanya kalau pembukaan lengkap 😁😁.

Setelah itu suami segera mengurus kamar dan administrasi rawat inap, dan saya kemudian masuk kamar inap. Sambil meringis menahan kontraksi, saya masih bisa berjalan mondar-mandir di kamar, dan selepas isya saya sudah sulit berjalan dan lebih nyaman berbaring miring di tempat tidur. Jam 9 malam dilakukan pemeriksaan dalam dan baru masuk pembukaan dua. Jam 12 malam, keluar flek darah dan kontraksi semakin kuat. Suster menyarankan untuk tidur sebisanya karena dalam kondisi rileks biasanya pembukaan semakin cepat. Di sela-sela kontraksi saya masih bisa tidur dan suami menemani saya di tempat tidur. Jam 4 pagi suster kembali memeriksa dalam dan sudah pembukaan 4. Kemudian jam 5.30 saya dibawa ke ruang tindakan dan kembali dipasang CTG. Saat itu saya masih bisa berdzikir dan setiap kontraksi datang, sambil meringis saya memegangi besi tempat tidur sekuat-kuatnya sampai tangan rasanya kaku 😁.

Jam 8 pagi, masuk ke pembukaan 6 dan saya optimis bisa melahirkan sebelum dzuhur. Suami terus menyuapi saya agar saya punya banyak tenaga untuk mengejan nanti. Rasanya semua makanan sudah tidak ada rasanya saat itu, hahaha. Kemudian jam 9 pagi, masuk ke pembukaan 7 menuju ke 8, tetapi hingga 3 jam kemudian pembukaan mentok di pembukaan 8 sampai akhirnya suster menawarkan untuk dipicu melalui infus. Saya dan suami menolak dan meminta waktu satu jam sambil berdoa semoga pembukaan segera menjadi lengkap. Tapi hingga satu jam kemudian, masih pembukaan 8 dan suster kembali menawarkan untuk dipicu karena khawatir bayi akan stres. Kami kemudian menyetujuinya dan tak lama infus pun dipasang. 15 menit kemudian saya merasakan kontraksi setiap menit dan rasa sakitnya 3 kali kontraksi biasa. Suami tetap sabar di samping saya dan membimbing untuk dzikir setiap kali kontraksi datang. Saat itu saya sudah mulai kehabisan tenaga dan mulai menangis kesakitan. Saya mulai berpikir untuk meminta operasi caesar saja karena rasanya tidak kuat menahan sakit. Tapi suami menguatkan saya, selain itu sayang juga karena sudah hampir pembukaan lengkap masa malah mau operasi. Setiap kali kontraksi datang, saya genggam erat tangan suami sampai rasanya buku jari saya putih semua, hahaha.. Setelah itu ketuban saya pecah dan ternyata pembukaan sudah lengkap. Saya kemudian dibimbing untuk mengejan dan setelah 3 kali mengejan, lahirlah si bayi kedunia. Alhamdulillah…Rasanya plong luar biasa.. Sakitnya selama kontraksi hilang begitu saja.. Subhanallah..

Si bayi kemudian dibersihkan dan kemudian dilakukan IMD selama 30 menit. Sementara itu dr. Enny melakukan penjahitan dan karena tidak ada pengguntingan perineum, saya mendapatkan 18 jahitan πŸ˜…. Rasa nyeri ketika dijahit tidak sebanding dengan rasa bahagia karena telah berhasil melahirkan bayi kami melalui persalinan normal, dan bayi kami sehat, sempurna dan lengkap.

Tentang nama yang kami pilihkan untuknya, Alifa Widhi Magani artinya adalah anak perempuan pertama Dian and Titis yang akan jadi orang yang menyenangkan untuk orang-orang di sekelilingnya 😁😁. Suami saya selalu ingin memakai nama Alif untuk anak pertama, dan karena bayi kami perempuan jadi ditambahkan ‘a’ di belakang Alif, sedangkan Widhi adalah nama tengah suami dan akan jadi signature untuk anak-anak kami kelak. Magani sendiri berarti menyenangkan, diambil dari bahasa Sansekerta. Harapan kami sebagai orang tua adalah agar Magani menjadi anak yang solehah dan mampu menjadi kebanggaan kedua orang tuanya dan orang-orang di sekelilingnya kelak. Amiiin.

Advertisements

12 thoughts on “Tentang Kelahiran Magani

  1. selamat ya kak Dian… Aduh aku bacanya aja sampe terharu sendiri… (T.T)
    ikut senang dan merinding baca ceritanya…
    semoga kelak Magani bs tumbuh besar menjadi anak menyenangkan seperti yang diharapkan yah…

  2. wah selamat yaa mba dian atas kelahiran putrinya πŸ˜€
    boleh tau ga, kemarin melahirkan normal di jih ambil paket apa ya? dan biayanya habis berapa ya?
    saya rencana pengen melahirkan di jogja juga supaya deket sama ortu nih mba
    sekarang masih cari info rs yg pro IMD

    • Hi Mbak, makasih yaa :). Kemarin paket melahirkan normal di JIH dengan kelas VIP untuk 3 hari 2 malam, habis sekitar 8 jutaan. Di JIH pro ASI, pro IMD, dan rooming in. Sejauh ini puas sekali dengan standar pelayanan disana, pulang juga dapat souvenir foto bayi yang dipigurain gitu. Anyway semoga nanti lahirannya lancar ya mbak πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s