Loss in Life

Pernahkah kamu dihadapkan pada kematian yang tiba2?

Saya baru saja mengalaminya. Sebagai seorang muslim saya tahu bahwa satu hal yang pasti dalam hidup adalah kematian, namun selama ini saya selalu merasa bahwa kematian tidak akan menghampiri orang-orang terdekat saya. Kematian hanya menghampiri kakek saya, saudara jauh saya, orang tua teman saya, dan orang-orang lain yang tidak saya kenal.

Dan hari itu kematian menghampiri ibu saya.

Hari itu Senin. Senin yang biasa dan wajar dimana mama menjalankan puasa sunah seperti Senin-senin sebelumnya. Saya juga bekerja seperti biasa, dan mama sempat menelepon ketika jam makan siang, memastikan saya sudah makan dan sempat kami bertukar canda, tanpa menyadari itu adalah panggilan telepon terakhirnya. Ketika telepon ditutup, sempat saya berpikir untuk pulang kantor lebih cepat. Saya ingin bertemu mama. Tapi kemudian saya melupakan niat itu dan tenggelam dalam pekerjaan saya. Sesuatu yang akan saya sesali kemudian.

Malam setibanya dirumah, mama sedang bersiap menunaikan sholat isya di masjid komplek bersama bapak. Dan saya menunggu mama pulang sembari membereskan diri. Setibanya mama dari masjid, saya langsung menghambur masuk kekamar mama dan menenggelamkan diri dalam peluknya, melepas penat dan kembali bersenda gurau, sambil sesekali saya cubit pipinya dan memeluknya erat-erat. Sampai kemudian mama pamit tidur dan saya kembali kekamar saya.

Pukul dua pagi ketika saya dengar mama mulai muntah-muntah, dan saya cepat2 menuju kamarnya dan menemukan mama sudah hampir pingsan dan bapak yang mulai panik. Saya tidak bisa berpikir apa2. Kaki ini sudah tak bertenaga dan butuh beberapa saat sampai saya bisa menekan tombol telepon teman bapak, memintanya mengantar kami ke rumah sakit. Saya tidak akan sanggup menyetir ke rumah sakit, pikir saya ketika itu.

Mama sudah tidak sadar ketika kami membawanya ke rumah sakit. Sesampainya disana, mama langsung ditangani dokter UGD dan tensi mama berada di angka 256/160. Sangat tinggi dan hasil CT scan menunjukkan kembali terjadi pecah pembuluh darah di otak. Hati ini mencelos, mengingat tepat setahun sebelumnya mama juga dirawat dirumah sakit juga karena pecah pembuluh darah. Selama 4 hari berikutnya mama berada dalam kondisi koma, dan tidak sekalipun membuka mata sampai kematian menjemputnya.

Dan selama 4 hari itu saya merasa jatuh, tidak berdaya, dan sedih luar biasa. Seandainya saya meluangkan waktu lebih banyak untuk mama, seandainya saya lebih mendengarkan apa kata mama, dan masih banyak andai-andai yang lain..

Tetapi saya yakin bahwa ini adalah yang terbaik untuk mama. Mama meninggal di hari Jumat, hari dimana ada banyak keistimewaan untuk mereka yang meninggal di hari itu. Mama juga tidak akan lagi merasakan kesakitan, kesedihan, ketakutan dan akhirnya terbebas dari hingar bingar dunia fana.

 

Selamat jalan Mama, bahagia di surgaNya ya. Cinta dan kasih sayangmu tidak akan lekang dimakan waktu.

 

Jakarta, 1 February 2013.

 

Advertisements

7 thoughts on “Loss in Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s