#TravelTokyo 1 : Tentang Jepang dan Mimpi yang Menjadi Nyata

Jepang. 11 tahun yang lalu buat saya Jepang adalah sebuah negara di timur jauh yang tak mungkin bisa dikunjungi. Siapa sangka dalam satu kesempatan tak terduga saya bisa mewujudkannya? πŸ™‚

Kebetulan kantor tempat saya bekerja punya kantor cabang di Tokyo, dan saya bersama seorang teman kerja diberi kesempatan untuk datang dan bertemu dengan Presiden Direktur sekaligus pemilik seluruh perusahaan. Kerja sekaligus jalan-jalan judulnya :p

Kami berdua mendarat di Tokyo di malam hari dalam kondisi hujan deras. Angin dingin langsung menerpa wajah dan menurut teman saya, suhu di Tokyo akan berada di kisaran 15 – 16 derajat celcius selama beberapa hari ke depan. Perbedaan suhu yang ekstrim dengan JakartaΒ  sempat membuat saya kebat-kebit. Saya kan ga bisa kena udara dingin, apa kabar kalau seminggu kena dingin terus, bisa-bisa saya masuk angin tiap malam :p.

Hal pertama yang membuat saya kagum dengan Jepang adalah sistem transportasinya yang terintegrasi. Dari dalam bandara kita bisa langsung naik kereta metro menuju ke tengah kota, dan ada juga terminal bus buat yang pingin naik bus.

Kebetulan hari itu teman seperjalanan saya ada janji bertemu dengan teman lamanya, orang Jepang yang dulu pernah tinggal di Indonesia untuk belajar bahasa Indonesia, di daerah Shinagawa. Kami naik kereta metro dari bandara menuju ke stasiun Shinagawa di pagi hari berikutnya, dan karena janji pertemuan adalah malam hari selepas jam pulang kantor, kami jadi punya waktu sesiangan untuk menjelajah daerah Shinagawa. Setelah menaruh koper dan barang bawaan di coin lockers (setiap stasiun umumnya punya coin lockers, jadi kita bisa menyimpan barang bawaan dengan membayar 300 yen untuk 12 jam)

Setelah menaruh barang di coin lockers, kami berjalan menjelajah daerah sekitaran stasiun Shinagawa, masuk ke dalam pusat perbelanjaan dan melihat-lihat beberapa barang, kemudian membeli beberapa onigiri dan sushi di convenient store. Rata-rata petugas kasir tidak bisa berbahasa Inggris, jadi saya harus minta bantuan teman saya untuk menterjemahkan perkataan mereka *tepok jidat*. Karena sibuk berbelanja, tak terasa waktu menjelang malam dan akhirnya kami memutuskan untuk duduk di sebuah coffee shop sambil menunggu teman Jepang kami datang. Sesuai yang dijanjikan, Masako san datang tepat pukul 7. 20 malam dan setelah mengambil barang di coin lockers, kami bergegas pergi menuju ke rumahnya di daerah Nerima, Tokyo untuk menginap selama beberapa hari.

Cerita perjalanan kami di Tokyo akan dilanjutkan dalam postingan berikutnya ya :p

Advertisements

13 thoughts on “#TravelTokyo 1 : Tentang Jepang dan Mimpi yang Menjadi Nyata

  1. super sekali ya sudah sampe Jepang.

    Eh, kalau orang nae haji kan suka ada yang bilang, “tolong disana doakan saya, agar cepat menyusul, ya”
    Kalo orang nae Jepang, bole minta doa serupa ga ya?

    “Kaka Dian, tolong doakan saya supaya lekas nae Jepang, yes”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s