Guru Dan Sistem Pendidikan di Indonesia

Menjadi guru adalah cita-cita masa kecil saya. Saya sudah akrab dengan profesi ini karena terlahir dari keluarga guru. Ibu saya adalah seorang guru taman kanak-kanak yang saat ini masih aktif mengajar. Salah satu kenangan yang selalu saya ingat adalah dulu ketika saya masih sangat belia, Ibu selalu membawa saya ke TK tempat beliau mengajar dan membiarkan saya ikut berinteraksi dengan anak-anak yang umurnya lebih tua dibanding saya. Kelak ketika saya belajar di tingkat Nol Besar, saya sering menyelinap masuk ke kelas Nol Kecil dan berpura-pura menjadi guru. Saya akan berkeliling ruangan kelas dan mengajari adik-adik kelas saya menggambar dan menempel kertas. Guru yang saat itu bertugas mengajar akan membiarkan saya dan hanya tersenyum simpul melihat saya bertingkah demikian. Ketika saya beranjak besar, saya selalu berteriak lantang bahwa saya ingin menjadi guru ketika banyak orang bertanya apa cita-cita saya. Cita-cita itu tertanam kuat di kepala sampai saya lulus SMP. Selepas SMP dan masuk SMU, cita-cita saya berubah, saya ingin jadi dokter, walaupun cita-cita menjadi dokter tidak terwujud sekarang, hahahahaha.

Hingga kini ketika saya sudah bekerja, saya masih mengagumi profesi guru. Semua guru yang saya temui sejak TK hingga lulus kuliah adalah guru-guru terbaik yang pernah saya punya. Mereka mendedikasikan hidupnya untuk pekerjaan yang sangat mulia ini. Tidak mudah untuk mengajar dengan sabar, terutama ketika menghadapi anak-anak yang sedang mencari jati diri. Guru mempunyai peran penting dalam setiap tahap perkembangan anak, terutama ketika anak berada di sekolah karena hampir separuh waktu anak-anak adalah di sekolah. Mereka adalah orang tua kedua, yang juga memiliki tanggung jawab untuk membimbing anak didiknya, mengajarkan mata pelajaran dengan baik, mencontohkan disiplin, dan masih banyak lagi. Sayangnya, profesi guru belum bisa disebut profesi yang menjanjikan di Indonesia. Beberapa sebabnya adalah sistem remunerasi yang kurang menarik serta kualitas infrastruktur pendidikan di Indonesia yang belum memuaskan. Sering kita dengar bahwa gaji guru itu kecil, dan hanya cukup untuk makan sehari-hari. Bahkan banyak diantara mereka yang hidup sangat sederhana sampai di akhir hidupnya :(.

Selain itu, infrastruktur pendidikan di Indonesia juga memperlukan perhatian khusus. Masih banyak bangunan-bangunan sekolah yang rusak dan menunggu perbaikan. Sering kita lihat di televisi bahwa banyak anak-anak yang terpaksa belajar di bawah pohon, di lapangan terbuka, di pinggir jalan, karena sekolah mereka roboh atau kebanjiran. Biaya pendidikan yang tinggi pun sudah bukan rahasia lagi. Banyak orang tua yang harus merogoh kocek dalam-dalam karena harus mengeluarkan uang hingga puluhan juta untuk bisa menyekolahkanย  anak mereka di sekolah (yang menurut mereka) terbaik. Bagaimana dengan anak-anak yang datang dari keluarga tidak mampu? Bisa melanjutkan sekolah hanyalah mimpi bagi sebagian besar mereka.

Sudah selayaknya ada perbaikan menyeluruh dalam sistem pendidikan di Indonesia, seperti program perbaikan bangunan sekolah hingga ke daerah-daerah terpencil, pengadaan program beasiswa yang lebih banyak untuk anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu, program perbaikan struktur remunerasi guru seperti penambahan tunjangan-tunjangan kerja, perlindungan asuransi, kesempatan memperkaya pengetahuan melalui training serta program peningkatan kompetensi guru melalui program beasiswa khusus guru.

Perkembangan dunia pendidikan secara global terutama penggunaan teknologi di sekolah juga harus mendapatkan perhatian khusus. Dulu para guru mengajar dengan kapur tulis, kemudian dengan white board dan spidol, kini dengan penggunaan slides dan proyektor. Bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan para guru akan menggunakan virtual board, seperti di film Iron Man :).ย  Bahkan kini adik saya yang mengumpulkan tugas melalui email dan facebook. Bukti bahwa teknologi digital memudahkan segala sesuatunya.

Para guru yang belum terbiasa dengan penggunaan teknologi dalam kegiatan mengajar harus mendapatkan pelatihan khusus dan mulai menerapkannya di sekolah. Sekolah pun harus mendukung hal ini melalui penyediaan dana pelatihan khusus, penyediaan komputer atau laptop dalam jumlah yang cukup untuk bisa digunakan murid dan guru, penggunaan maksimal dalam website sekolah sehingga semua informasi bisa diakses dengan mudah oleh para guru, orang tua murid serta murid itu sendiri.

Tentu saja hal-hal diatas hanya dapat dilakukan dengan kerjasama yang baik antara pemerintah serta departemen-departemen terkait yang terlibat dalam dunia pendidikan Indonesia. Perbaikan menyeluruh yang memakan waktu lama adalah jauh lebih baik daripada tidak ada perbaikan sama sekali. Semoga dengan adanya Hari Guru di tanggal 25 November nanti bisa menjadi momentum untuk menjadikan dunia pendidikan di Indonesia lebih baik.

Note:

Tulisan dibuat dalam rangka lomba blog yang diadakan oleh Gerakan Indonesia Berkibar ( @IDBerkibar)

Advertisements

2 thoughts on “Guru Dan Sistem Pendidikan di Indonesia

    • Iyaa, pada akhirnya jadi ngambil kerjaan di tempat lain buat menambah penghasilan. Misalnya jadi guru di tempat kursus/ les, atau ngasi privat di rumah ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s