Selamat Ulang Tahun, Jakarta!

Siapa yang tak kenal Jakarta? Ibukota negara kesatuan Republik Indonesia yang hari ini, 22 Juni berusia 485 tahun. Uzur ya? :D. Di usianya yang sudah uzur ini, Jakarta masih menjadi kota impian para muda-mudi dari seantero negeri yang terpikat dengan gemerlap lampu kota, dan iming-iming mendapatkan uang lebih banyak dibandingkan kalau mereka tetap tinggal di kampung halaman. Anggapan yang tidak bisa disalahkan.

Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan bisnis memang menjanjikan segalanya. Gedung-gedung pencakar langit di seputaran kawasan Sudirman, Thamrin, Mega Kuningan, Rasuna Said dan sekitarnya menambah daya tarik Jakarta sebagai tempat untuk mengadu nasib. Tapi apakah memang benar demikian?

Saya sendiri ‘baru’ 4 tahun bekerja di Jakarta, karena setelah lulus kuliah justru mencari pekerjaan yang sebisa mungkin tidak di Jakarta. Bayangan kalau Jakarta kota yang keras dengan sedikit empati dari warganya membuat nyali saya ciut. Apalagi selama masa SMA dan kuliah saya habiskan di Jogja, kota yang tenang, aman tentram loh jinawi. Membandingkan Jogja dan Jakarta seperti air dan api, jauh dari mirip. Tak lama berselang sejak kelulusan saya, saya mendapatkan pekerjaan di Bali. Allah mengabulkan doa saya sehingga saya tidak bekerja di Jakarta. Karakteristik kehidupan di Bali yang mirip dengan Jogja membuat tahun-tahun awal saya menjadi pekerja profesional menjadi jauh lebih mudah, dan nyaman. Saya tidak perlu memikirkan bagaimana caranya menghindari kemacetan di jam-jam sibuk karena jarak dari tempat tinggal menuju tempat bekerja bisa ditempuh hanya dalam hitungan menit.

Hingga saya tiba di satu titik dimana saya merasa teman-teman saya yang bekerja di Jakarta sudah jauh lebih sukses daripada saya, menurut saya waktu itu.

Dengan berbagai pertimbangan yang menguras air mata, saya memutuskan pindah ke Jakarta, meninggalkan semua kenyamanan hidup di Bali dan memulai segala sesuatunya dari nol. Hari-hari awal saya di Jakarta saya lalui dengan berat. Saya harus berangkat sebelum jam 6 pagi dari rumah saya di pinggir Jakarta untuk menghindari macet dan akan tiba di kantor sekitar pukul 8 pagi. Ketika jam pulang kantor, saya masih harus berjibaku dengan kemacetan dan berdesak-desakan di kereta, dan baru akan tiba dirumah sekitar pukul 8 malam, paling cepat. Terkadang saya harus memilih noda transportasi lain seperti shuttle bus atau kopaja apabila kereta komuter sedang bermasalah. Belum lagi harus menyesuaikan diri dengan ritme kerja di Jakarta yang sangat cepat.

Dari sekian banyak pengalaman menaiki (hampir) semua moda transportasi di Jakarta, pengalaman naik kopaja dan kereta komuter adalah yang paling menarik, karena saya pernah beberapa kali nyaris kecopetan di kopaja. Modus operandinya bermacam-macam, tetapi rata-rata para copet itu bergerombol dan berdandan rapi layaknya pekerja kantoran. Saya juga pernah mengalami digrepe-grepe di (maaf) pantat di kereta, dan mendengar masih banyak lagi cerita serupa dari teman-teman yang lain.

Dan jangan tanyakan tentang macet, saya sudah sampai di titik tidak bisa lagi mengumpat atau marah-marah kalau bertemu dengan kemacetan di hampir semua ruas jalanan Jakarta, terutama di Senin pagi dan Jumat malam. Hujan deras selama beberapa jam saja bisa membuat jalanan Jakarta macet luar biasa.

Dari sekian banyak tantangan hidup di Jakarta, kota ini juga menawarkan banyak kemudahan, terutama untuk fasilitas publik seperti berjamurnya mall-mall *eh*, pusat elektronik lengkap untuk para pencinta barang-barang elektronik, pusat perbelanjaan semacam ITC yang menjual baju-baju trendi dan gaya dengan harga miring, dan fasilitas nongkrong semacam kedai kopi, bioskop, gedung pertunjukan kesenian, dan juga rumah sakit baik negeri maupun swasta dengan peralatan medis jauh lebih lengkap dibandingkan di daerah-daerah.

Pada akhirnya, mereka-mereka yang berkemauan keras dan memiliki mental baja lah yang akan bisa bertahan hidup di Jakarta. Kota ini mampu mengubah kepribadian kita, dari yang alon-alon asal kelakon menjadi grasa-grusu kesusu, dari kalem menjadi agresif. Tapi inilah Jakarta, dengan sejuta pesona dan tipu daya di baliknya. Selamat ulang tahun Jakarta! Semoga kau bisa dinobatkan menjadi kota paling nyaman untuk ditinggali di masa depan nanti. Amien !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s