Bahagia Itu Sederhana

Bicara tentang merasa bahagia, beberapa orang yang saya temui memiliki definisi masing-masing tentang apa yang membuat mereka merasakan kebahagiaan. Kecukupan materi, punya pekerjaan bergengsi, gadget terbaru dan pencapaian kerja yang tinggi adalah beberapa hal yang sering menjadi penentu kebahagiaan.

Buat saya, kebahagiaan itu relatif ukurannya, dan seringkali hal-hal kecil dan remeh temeh mampu membuat saya nyengir lebar setengah cupu sepanjang hari. Matahari yang bersinar cerah setelah hujan deras berhari-hari, kereta Commuter Line yang biasa saya naiki datang tepat waktu, bapak2 yang berbaik hati memberikan tempat duduk di kereta yang penuh penumpang, klien yang ngga rewel, ngemil duren dingin setelah mengalami hari yang sibuk, ketika saya tiba dirumah satu jam lebih cepat sepulang kantor, dan tentu saja momen ketika saya bisa bercerita panjang lebar sama si mas tentang apa saja yang sudah saya lakukan seharian itu. Masih banyak sekali hal-hal kecil yang belum disebutkan, tapi percayalah bahwa merasa bahagia itu dirasakan di dalam diri, tentang bagaimana mensyukuri apa yang kita punya dan bukan menghitung apa yang tidak kita miliki.

Terkadang di masa-masa sulit pun sebagai manusia terkadang saya mengeluh, tetapi selalu ada cara dimana Semesta mengingatkan saya untuk jangan lalai bersyukur terhadap semua yang sudah dimiliki. Contohnya ketika beberapa hari yang lalu saya secara sengaja pulang kantor dengan naik kereta ekonomi, bukan kereta ekspress yang saya biasa gunakan. Sudah hampir jam 9 malam ketika itu, dan saya tidak bisa melepaskan pandangan saya dari bapak tua yang menjajakan poster dari satu gerbong ke gerbong lain. Kerut di dahi dan sudut matanya tidak bisa menyembunyikan kesulitan hidup yang dialaminya. Kemeja batik lengan panjang yang sudah lusuh, sandal jepit tua, tas kresek hitam besar yang disandarkan di pundak, dan pancaran mata lelah itu membuat saya sedih setengah mati. Dengan suara lirih ia tawarkan posternya seharga 3 ribu rupiah per lembar. Sampai ketika ada seorang penumpang yang membeli 5 lembar posternya dan membayar dengan satu lembar 50 ribuan rupiah, ia berkata pelan bahwa ia tidak punya uang kembalian karena belum ada satupun posternya yang laku seharian. Si penumpang juga rupanya tidak punya uang pecahan lebih kecil sehingga si bapak memutuskan menukarkan dulu uangnya dengan pengasong lain di kereta. Selepas transaksi, si bapak penjual poster tersenyum simpul sembari mengucap “Alhamdulillah”. Trenyuh sekali mendengarnya.

Uang sejumlah 15 ribu rupiah untuk beberapa diantara kita adalah seharga satu porsi nasi dan lauk pauk untuk makan siang, sementara untuk orang lain uang sejumlah itu besar nilainya. Jadi benarlah kata orang tua, jangan melihat ke atas karena nanti kau akan lalai bersyukur. Beruntunglah kita karena masih memakai pakaian yang layak, masih bisa makan tiga kali sehari dengan menu yang berbeda-beda, masih punya rumah yang nyaman untuk berteduh dari panas dan hujan, masih mampu membeli tiket untuk menonton film di bioskop, masih mampu untuk sesekali membeli kopi di gerai franschise, dan banyak lagi yang lain.

Jadi, mari banyak bersyukur biar kerut-kerut di dahimu hilang 🙂

With love,

Dian

Advertisements

2 thoughts on “Bahagia Itu Sederhana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s