Bakwan Penyambung Hidup

Setiap pagi, rutinitas yang menyenangkan sekaligus sedikit membingungkan buat gw adalah mencari sarapan. Gw ga terlalu suka makan banyak tiap pagi, biasanya cuman makan roti yang beli di Circle K atau oatmeal *sok-sokkan bergaya hidup sehat* :D. Kalau pengen sarapan berat seperti bubur ayam atau nasi uduk, belinya cuman setengah porsi karena kalau beli satu porsi pasti ga habis.

Seringnya, gw beli sarapan sama ibu penjual makanan kecil dan gorengan. Ibu Asih namanya, dia selalu mangkal di pantry, di salah satu lantai di kantor gw. Menunya macem2 tapi ga ada yang berat, dari mulai roti isi selai strawberry, donat, panada (kue khas manado yang isinya daging ikan cincang), arem-arem, risoles isi bihun, tahu tepung, bakwan goreng, somay ayam, dadar gulung dan macem2 kue basah lainnya. Ada juga susu kedelai sama bubur sumsum.

Bu Asih 1

Ibu Asih selalu jadi langganan orang-orang yang ngantor di gedung gw. Bakwan gorengnya yang enak banget selalu jadi idola dan selalu habis duluan, sampe2 jajanan lain jadi ga menarik kalau ga ada bakwannya. Bakwan itu bertekstur cenderung kering dan kriuk-kriuk, dan lumayan gede jadi makan satu aja kenyang kalo buat gw. Bakwan yang dia jual sebenernya dibuat sama kakaknya, jadi setiap pagi Bu Asih ngambil bakwan yang baru mateng di rumah kakaknya dan pergi ke pasar untuk kulakan jajanan yang lain.

Dulunya Ibu Asih punya tempat mangkal sendiri, ada satu perusahaan yang menyewa ruangan di Menara Cakrawala, yang berbaik hati menyewakan tempat khusus buat Ibu Asih jualan. Disitu dia bisa bebas menggelar dagangannya dan bahkan bisa nyediain piring, sendok, gelas dan peralatan makan lain. Yang beli juga bisa berlama-lama sarapan karena ada meja dan kursi. Sayangnya dua bulan yang lalu, tenant itu pindah ke gedung lain karena kontrak sewanya uda abis dan ga dilanjutin. Sejak saat itu, Bu Asih selalu jualan berpindah-pindah. Tempat yang paling sering jadi tempat mangkal dia adalah di tangga darurat, karena disitu gratis alias ga bayar sewa.

Bu Asih 3Saking udah lamanya jualan di Menara Cakrawala, Ibu Asih selalu hapal setiap pembelinya, termasuk kebiasaan-kebiasaan mereka kalau sarapan. Dari mulai pembeli yang doyannya makan bakwan pake saus kacang berlimpah-limpah, yang doyannya pake cabe, sampe yang doyan ngutang, hakhakhak.

Kita sebagai pembeli juga akhirnya tau sedikit-sedikit tentang Ibu Asih. Tentang anak-anaknya yang masih kecil-kecil, tentang suaminya, tentang komplen yang di dapet dari pembeli kalo kebetulan dapet makanan yang ga enak, bahkan berita tentang anak sulungnya yang belum lama meninggal karena bunuh diri. Dan sebab bunuh dirinya hanya karena putus sama pacarnya :(. Musibah itu sempat membuat Ibu Asih down dan ga jualan beberapa lama, yang pastinya mengacaukan keuangan keluarganya. Memang hanya dari berjualan itu lah Ibu Asih dan suaminya menghidupi anak-anaknya.

Bulan puasa kemarin, Bu Asih dipercaya lagi sama Allah untuk membesarkan seorang anak, beliau ternyata hamil lagi dan sekarang usia kandungannya masuk bulan ke 3. Yang membuat miris adalah, dalam keadaan hamil muda, Ibu Asih harus tetap berjualan dan terkadang kalau tangga darurat ga bisa dipakai, dia akan berkeliling di pantry di tiap lantai, dan membawa sendiri semua barang dagangannya. Barang dagangannya juga ga ringan dan cuman bisa dijinjing karena ga mungkin pake trolley di kantor. Terkadang walaupun sudah kenyang, gw masih membeli lagi beberapa makanan di sana, sekalian ngurang2in dagangan biar ga terlalu berat buat dibawa Bu Asih, walaupun pada akhirnya makanan itu diabisin sama temen2 kantor gw.

Sepanjang yang gw tau, ada banyak ibu2 seperti Ibu Asih yang berjualan makanan kecil di gedung-gedung bertingkat, gw menyebutnya ibu-ibu pantry (karena biasanya mangkal di pantry), dan menjadi penolong buat orang-orang yang doyan jajan dan ngemil kaya gw. Mereka juga punya langganan dan bahkan ga hanya mangkal di satu gedung tapi bisa beberapa gedung sekaligus.

Ibu Asih dan ibu2 pantry yang lain adalah satu lagi sisi lain kehidupan Jakarta.

Advertisements

2 thoughts on “Bakwan Penyambung Hidup

  1. Nila says:

    jadi inget pernah beli juga dagangan nya bu Asih, ga nyangka perjuangan dan kisah hidupnya… thanks for sharing, dian.. 🙂 jadi bikin makin bijak *halah.. 😀

    p.s. beliin bakwannya dunk hehe

    • Dian says:

      Iyaaa… sekarang dagangannya ga terlalu banyak soalnya Ibu Asih ga bisa bawanya :(, hayuuu tak beliin bakwan sekalian kita gegosipan, hihihihi. Thanks for the comment juga ya dear 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s