Jogja dan Cinta Pertama

Jogja adalah cinta pertama gw.

Gw beruntung dilahirkan dari keluarga yang memang asli Jogja. Bapak ibu gw kelahiran Jogja dan keluarga besar mereka hidup bertetangga di daerah Jl. AM Sangaji, Kota Yogyakarta. Jadi kalo Lebaran, mudiknya cuman ke satu kota dan acara salam2an makan waktu sehari penuh karena satu kampung adalah sodara semua. Masa kecil gw dihabiskan di rumah eyang kakung dan eyang ti karena bokap sama nyokap harus kerja dan gw ga ada yang jaga.

Pas gw umur 3 tahun, bokap dipindah tugaskan ke BATAN Serpong dan kenangan masa kecil gw di Jogja terputus hanya sampai masa TK. Ga banyak yang gw inget, kecuali waktu gw mo pentas tahunan di TK. Prita Putra (sekarang Sekolah Montessori), pake baju serupa baju balet warna merah, selebihnya nol.

Masa SD dan SMP gw habiskan di Serpong, daerah pinggiran kota, terhitung masuk wilayah Tangerang Selatan sekarang, dan sekarang menjelma menjadi kota mandiri dengan BSD City sebagai ikon. Dulu waktu masih SD, daerah jelajah paling jauh ya sebatas BSD itu, ga pernah bergaul sampe Blok M atau Pondok Indah karena ga banyak alat transportasi yang bisa membawa gw kesana waktu itu.

Selepas SMP, setelah melalui perdebatan alot sama bokap nyokap, gw diperbolehkan melanjutkan SMA di SMA 9 Sagan Jogja. Alasan pemilihan SMA itu adalah karena kakak sepupu gw juga sekolah disana, ditambah cerita2 kalo biarpun SMA 9 adalah SMA Negeri, tapi anak2nya gaul2 dan cakep-cakep :). Lokasinya juga strategis dan berada di kawasan dengan banyak pohon rindang, walaupun didepan sekolahan persis ada bak sampah segede gaban dan taman kecil, yang katanya di taman itu sering dipake orang bunuh diri.. hakhakhak..Kalo mau bolos sekolah tinggal ngabur ke Galeria mall, yang bisa dicapai kurang dari 15 menit. Atau belanja rame2 ke Superindo, padahal cuman beli bakpao sebiji :p.

Di masa SMA itulah gw punya banyak kesempatan untuk mengeksplor Jogja lebih jauh. Daerah jelajah meluas bukan hanya di daerah kotanya aja, tapi juga sampai ke daerah Kaliurang, Taman Siswa, Prambanan, Wonosari, Bantul, Wates dan sekitarnya.Satu kebiasaan cowo2 Jogja yang gw inget sampe sekarang adalah, kalau pulang malem abis jalan2, pasti dianterin sampe rumah dan selalu dipamitin sama orang yang di rumah.

Menginjak masa kuliah, jam-jam bertualang yang tadinya terbatas cuman sampe jam 9 malem sekarang jauh lebih longgar. Selain karena gw ga tinggal bareng eyang lagi, gw juga aktif berkegiatan di UKM kampus gw, dan lingkaran pertemanan dan kualitas ngelayap jadi jauh lebih banyak.Gw jadi tau banyak spot2 bagus dan tempat makan yang murah enak dan porsinya banyak.

Masa-masa SMA dan kuliah ini yang akhirnya berkontribusi banyak dalam memberi warna buat hidup gw. Gw dipertemukan dengan banyak orang-orang yang baik dan menyenangkan, dan mereka masih menjadi sahabat hingga kini. Gw melakukan banyak hal bersama mereka di Jogja, melewati masa-masa penuh tawa dan kadang2 airmata, dan sekarang bisa menertawakan ketololan yang gw dan temen2 gw ciptakan jaman masih cupu dulu.

Dari hasil hidup di Jogja hampir 11 tahun ditambah darah keningratan gw *dikeplak*, cinta gw pada kota ini semakin dalam. Kuliner murah tersedia dimana-mana dan 24 jam.  Dari mulai lapak pinggir jalan, sampe resto bintang lima semuanya menyajikan makanan yang luarbiasa enak dan murah.Belom lagi keramahan asli penduduknya.

Hampir semua sudut Jogja khatam dijelajahin, dan selalu takjub setiap kali kembali mengunjungi kota itu, betapa cepat ia berubah. Semakin banyak orang2 yang mukanya sama sekali ga njawani berkeliaran di mall dan bioskop, membuat Jogja mulai tampak seperti Jakarta dalam bentuk mini, minus gedung2 pencakar langit. Mereka para pendatang membawa nuansa baru buat Jogja. Semakin banyak komunitas anak muda yang mengembangkan sayap di Jogja, dan membuat industri kreatif maju pesat.

Seperti magnet, Jogja memang selalu mampu menarik gw kembali ke sana. Tak peduli bahwa gw pernah berada jauh dari kota itu, nuansanya tetap selalu melekat di dalam diri gw.

Jogja memang cinta pertama gw.

Advertisements

8 thoughts on “Jogja dan Cinta Pertama

  1. iyahhh…katanya sma 9 emang cakep-cakep, terutama cewenya *giggle*
    hehehehe…jadi inget… :p
    dan…gw kadang wonder deh Di…
    kok kita jadi “sahabatan” dunia maya gini yah xD
    hahahaa, kali kalo abege jaman sekarang diposisi kita, udah musuh-musuhan kali yah Di xD
    ahahaha, untungnya kita bukan abege lagi xP

    well, back to Jogja…
    i feel the same way too…
    Jogja is my first love too…
    dari jaman jam 6 pagi yang masih berkabut,
    sampai sekarang dikala siangnya Jogja bisa mencapai 37,7 derajat celcius.
    Well…Jogja selalu memanggil gw untuk kembali…

  2. Iyaaa.. gw juga takjub kalo liat kita bisa deket biarpun belon pernah meet in person. Itu karena Jogja yang mempertemukan kita darl.. Dan mempertemukan gw sama Shasha juga :))

  3. titis says:

    Hmm… I think u are right Hunny. Jogja memang selalu meninggalkan kesan yang mendalam bagi semua orang. Tak perduli mereka itu orang pribumi alias orang Indonesia yang sempat mampir ke kota gudeg itu atau orang kulit putih alias bulé.

    Bagiku jogja memang kota yang “ngangeni”. Tak hanya karena keindahannya dan keramahan masyarakatnya, tapi karena jogja kurasakan begitu menenangkan hati. Memang tak lama aku di jogja, tapi sungguh aku sangat cinta kota itu. Doaku, semoga aku bisa kembali ke kota jogja dan membangun rumahku disana.

    Jogja oh jogja… Banyak Hal indah yang kulewatkan bersamamu, ya walaupun terkadang terselip duka, tapi bagiku Kau tetaplah jogjaku, kotaku yang teristimewa. Meskipun sekarang aku meninggalkanmu untuk merantau di pulau seberang, jogja Kau adalah tempatku untuk kembali… 🙂

    Happy aniversary jogjaku… Tetaplah menjadi kota yang toleran dan tetaplah menjadi jogjaku yang “ngangeni”.

    • I feel the same Hun, mau melanglang buana kemanapun, pasti selalu inget kota Jogja. Kota yang selalu tenang dan jauh dari hingar bingar kehidupan metropolis. Jogja tempat dimana bisa bernafas tanpa tergesa-gesa, ga perlu khawatir ketinggalan kereta, dan makanannya murah-muraaaahh, ehehehe :))). Mau mbangun rumah di Jogja? hayu atuh lah 😀

  4. mba dian.. kota ini juga jadi kota bersejarah buat hidup saya.. Selain karena orang tua saya juga berasal dari jogja, saya juga menjalani masa kuliah saya di kota ini selama 4 tahun dan disinilah saya bertemu dan mengenail calon saya. Kota ini sampai kapanpun tidak akan pernah hilang dari hati saya. Seperti lagu kla project yang slalu saya ingin “ijinkan aku untuk selalu pulang lagi, bila hati mulai sepi tanpa terobati”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s