Posted by

Protected: Tentang Maaf

This post is password protected. To view it please enter your password below:

Tentang Perjalanan

Pada suatu sore yang teduh di selepas perjalanan yang panjang, ketika saya sedang membereskan baju-baju di koper kecil saya, dan tiba-tiba ingatan saya terbang kembali ke beberapa hari sebelumnya ketika saya pergi menjelajah pulau-pulau di timur Indonesia.

Di gugus pulau-pulau yang  tenang dengan pantai pasir putih, pohon-pohon kelapa yang berbaris rapi, dan air laut yang berwarna hijau jernih itu saya bisa sejenak melepaskan diri dari riuh rendah ibukota. Saya menikmati setiap langkah yang saya jejakkan disana. Perjalanan menuju ke pulau kecil itu tidak mudah karena harus menggunakan perahu kayu serta melintasi laut lepas selama beberapa jam, tetapi perjalanan ini membuat saya berpikir bahwa manusia itu sungguh kecil dan tidak punya kuasa apa-apa terhadap kekuatan semesta.

Semesta selalu punya cara untuk membuat rencanamu berantakan, dan saya seringkali mendapatinya demikian.  Sejak kecil saya  terbiasa merencanakan segala sesuatunya dengan teliti, termasuk jadwal kegiatan harian, rencana-rencana perjalanan, dan rencana hidup saya, yang -tentu-saja- pada akhirnya beberapa diantaranya meleset dari skema. Tetapi saya belajar dari perjalanan saya kemarin, bahwa akan lebih mudah dan meringankan hati apabila saya percayakan saja semuanya pada semesta dan tidak perlu berjalan tergesa-gesa. Mungkin sudah waktunya untuk mengatur langkah sedikit lebih lambat, menghela nafas perlahan-lahan dan merasakan dengan seluruh indera, pada hangat pasir pantai yang butirnya menyusup melewati sela jari-jari kaki, pada asin air laut yang disesap diam-diam, dan pada hembus angin laut di atas kepala.

Dan tentu saja, pada akhirnya perjalanan singkat itu tetap harus diakhiri dengan perasaan tidak rela. Ingin rasanya tinggal lebih lama disana, tapi apa daya saya tak kuasa.

Sudah beberapa hari berselang sejak itu, dan kini saya diantara sobekan tiket pesawat, boarding pas, kartu bagasi, memory card kamera, file-file foto yang belum sempat diedit, catatan-catatan perjalanan yang terserak di dalam ingatan, dan kenyataan bahwa akan ada jarak yang terentang, juga harus kembali berhadapan dengan keseharian yang terencana.

 

Jakarta, 24 April 2012

 

photo taken from here

Bahagia Itu Sederhana

Bicara tentang merasa bahagia, beberapa orang yang saya temui memiliki definisi masing-masing tentang apa yang membuat mereka merasakan kebahagiaan. Kecukupan materi, punya pekerjaan bergengsi, gadget terbaru dan pencapaian kerja yang tinggi adalah beberapa hal yang sering menjadi penentu kebahagiaan.

Buat saya, kebahagiaan itu relatif ukurannya, dan seringkali hal-hal kecil dan remeh temeh mampu membuat saya nyengir lebar setengah cupu sepanjang hari. Matahari yang bersinar cerah setelah hujan deras berhari-hari, kereta Commuter Line yang biasa saya naiki datang tepat waktu, bapak2 yang berbaik hati memberikan tempat duduk di kereta yang penuh penumpang, klien yang ngga rewel, ngemil duren dingin setelah mengalami hari yang sibuk, ketika saya tiba dirumah satu jam lebih cepat sepulang kantor, dan tentu saja momen ketika saya bisa bercerita panjang lebar sama si mas tentang apa saja yang sudah saya lakukan seharian itu. Masih banyak sekali hal-hal kecil yang belum disebutkan, tapi percayalah bahwa merasa bahagia itu dirasakan di dalam diri, tentang bagaimana mensyukuri apa yang kita punya dan bukan menghitung apa yang tidak kita miliki.

Terkadang di masa-masa sulit pun sebagai manusia terkadang saya mengeluh, tetapi selalu ada cara dimana Semesta mengingatkan saya untuk jangan lalai bersyukur terhadap semua yang sudah dimiliki. Contohnya ketika beberapa hari yang lalu saya secara sengaja pulang kantor dengan naik kereta ekonomi, bukan kereta ekspress yang saya biasa gunakan. Sudah hampir jam 9 malam ketika itu, dan saya tidak bisa melepaskan pandangan saya dari bapak tua yang menjajakan poster dari satu gerbong ke gerbong lain. Kerut di dahi dan sudut matanya tidak bisa menyembunyikan kesulitan hidup yang dialaminya. Kemeja batik lengan panjang yang sudah lusuh, sandal jepit tua, tas kresek hitam besar yang disandarkan di pundak, dan pancaran mata lelah itu membuat saya sedih setengah mati. Dengan suara lirih ia tawarkan posternya seharga 3 ribu rupiah per lembar. Sampai ketika ada seorang penumpang yang membeli 5 lembar posternya dan membayar dengan satu lembar 50 ribuan rupiah, ia berkata pelan bahwa ia tidak punya uang kembalian karena belum ada satupun posternya yang laku seharian. Si penumpang juga rupanya tidak punya uang pecahan lebih kecil sehingga si bapak memutuskan menukarkan dulu uangnya dengan pengasong lain di kereta. Selepas transaksi, si bapak penjual poster tersenyum simpul sembari mengucap “Alhamdulillah”. Trenyuh sekali mendengarnya.

Uang sejumlah 15 ribu rupiah untuk beberapa diantara kita adalah seharga satu porsi nasi dan lauk pauk untuk makan siang, sementara untuk orang lain uang sejumlah itu besar nilainya. Jadi benarlah kata orang tua, jangan melihat ke atas karena nanti kau akan lalai bersyukur. Beruntunglah kita karena masih memakai pakaian yang layak, masih bisa makan tiga kali sehari dengan menu yang berbeda-beda, masih punya rumah yang nyaman untuk berteduh dari panas dan hujan, masih mampu membeli tiket untuk menonton film di bioskop, masih mampu untuk sesekali membeli kopi di gerai franschise, dan banyak lagi yang lain.

Jadi, mari banyak bersyukur biar kerut-kerut di dahimu hilang :)

With love,

Dian

A Thank You Note

It was one fine morning when the sun shining brightly, after days of endless rain and cold weather. And it was me trying hard dealing with my roller coaster mood. I already had my period this month, so I guess it wasn’t because of the premenstrual syndrome and I just had no clue of why I was being cranky and spilled out nonsense words at all things.

The level of my crankiness was getting worse as I found myself  crying sadly over a simple things. It took almost half of my morning hours until I spoke to you, and I had no idea of how could you easily made stop crying. I am sure it wasn’t because of you calming me down with a sugar-coating words. I knew as well that whatever you have said, it wasn’t intended to please me.

I guess, it was because of the frank yet honest statement you’ve said that made me see everything clearly, and simpler, and in the end I found out that all of your statements was right. And I just stopped crying afterwards.

“I’m selfish, impatient and a little insecure. I make mistakes, I am out of control and at times hard to handle. But if you can’t handle me at my worst, then you sure as hell don’t deserve me at my best.”
Marilyn Monroe

During the times we have spent, you have proven yourself to be the one who can handle me at my worst, and I am sure as hell that you deserve me at my best.

Thank you, dear :*

Tentang 2011

Sudah beberapa hari sejak tahun 2011 berlalu, dan saya masih ingat setiap detil kejadian yang saya lalui di tahun 2011 kemarin. Beberapa diantaranya memang meninggalkan bekas yang cukup dalam, tapi tentu saja pada akhirnya membuat hidup saya jauh lebih bermakna, dan berwarna.

It was a very rocky journey, but I managed to get through it and found the rainbow at the end :) . And I have the honor to say that I left 2011 proudly, full of loves and welcoming 2012 with a full heart.

Jakarta, early January 2012. 20:15 PM

Footprints

People come and go in life. Some of them left a beautiful memories, and some of them don’t.

Through times we learn to appreciate their presence, for they bring lesson we wouldn’t realize until they left. Some of them will remain as a good friend, while in the other hand we try so hard to forget the rest who happen to hurt us in every possible way.

They left their footprints in our heart. For a heart-reminder on how life has been so kind and generous to let us meet a lot of people. You might not realize how precious they were, until they left and you don’t have any chance just to say thank you. Thank you for all the smiles that you have shared, for all the tears you have gone through, and for the love you have found along the way.

Their footprints in our life is our treasury, the best thing in life we could ever had. For you can always remember that, in every good and bad times, you will always have somebody to share it with.

Jakarta, November 1st, 2011. 17:53 PM

picture is taken from here

Hujan Di Selepas Senja

Selepas senja,  rintik pertama terlihat dari balik ruang kaca.  Ada sebaris rindu menyergap seketika, menyelinap di relung paling dalam dan berhasil membuatku tertegun dalam diam. Seandainya ada kamu disini, pasti akan segera kutarik tanganmu dan mengajakmu berlari kecil menuju kedai kopi di sudut jalan. Menikmati hujan dan tiap rintiknya sembari tertawa-tawa, menyesap secangkir teh manis hangat beraroma apel dan bercerita tentang apa saja yang sudah kita lalui hari ini. Sesekali akan kamu arahkan viewfinder kameramu ke arah orang-orang yang berlarian menuju tempat teduh. “Ini momennya bagus”, pasti begitu katamu. Dan aku tetap dengan cangkir tehku, menatap lekat dan mencoba merekam setiap perubahan air mukamu tiap kali kamu berhasil memotret momen yang menurutmu istimewa.

Tapi tentu saja,kita tidak berada di kedai kopi dan kamu tidak ada disini untuk menemaniku menikmati hujan. Hanya ada aku yang berdiri di sudut jendela, menatap ke langit dan bertanya apakah hujan juga menyapamu di seberang sana.

Di selepas senja, di deras hujan yang memaksaku bergegas pulang, mendadak semua tentangmu berputar teratur serupa rangkaian frame yang diputar satu demi satu. Jaket merah hitam. Kamera. Kacamata. Kaos hitam. Parfum favorit. Running shoes. Dan setiap detil raut wajahmu.

Jakarta, October 2011.

photo taken from: http://favim.com/image/20429/

Tentang Kamera Pertama

It is simply another dream coming true :) .

Setelah sekian lama menabung dan menabung, sampai (seringkali) dana yang disiapkan terpakai untuk keperluan lain, akhirnya saya berhasil mewujudkan salah satu impian saya, memiliki kamera DSLR sendiri *nyengir*.

Nikon D90 adalah pilihan saya, jangan tanya kenapa karena hanya kamera itu yang ada dalam pikiran saya, walaupun dengan kemampuan saya memotret yang berada di level terendah, memiliki kamera DSLR dengan kemampuan seperti Nikon D90 membuat saya tampak kedodoran, hahahaha.

Setelah mengecek dan membandingkan harga di beberapa tempat, akhirnya dengan ditemani si mas, saya membeli kamera pertama saya di Jogja. Kagok dan ndeso adalah reaksi pertama saya ketika pertama kali memegang bodi kamera dan menekan shutter untuk membidik objek. Foto pertama saya jaaauuuhhh dari sempurna, blur dan over exposure (jangan tanya artinya :p).  Foto kedua miring, hahaha, tapi untungnya si mas sabar, walaupun sambil manyun dan mecucu dia mengoreksi foto saya :D . Untungnya si mas pengguna nikon juga, jadi dia adalah tempat bertanya dan konsultan fotografi gratisan buat saya, hehehe..

Model dadakan yang jadi sasaran bidikan saya pastinya mama dan benda2  di sekeliling saya, mulai dari tanaman dan bunga-bunga di taman depan rumah, tempayan di kolam ikan, pohon jambu, sampai ketupat sayur yang sedang dilahap ayah :) .

Foto2 pertama saya yang ala kadarnya menjadi semacam inisiasi, dan bukan hanya tentang membidik tetapi bagaimana saya belajar mengenal si kamera, mengetahui semua fungsi tombol yang ada ditubuhnya, dan menajamkan sensitifitas saya untuk menangkap momen2 unyu di sekeliling saya :D . Satu lagi, ini adalah tentang bagaimana mewujudkan mimpi, dan bersabar dalam setiap langkah untuk menjadikannya nyata. Memiliki DSLR itu sebenarnya resolusi saya sejak tahun 2008, tapi baru dieksekusi di 2011,haha. Lamanya penantian ga jadi masalah, yang penting akhirnya punya :D

Jadi, hunting kemana kita sekarang?  :D

Selamat Ulang Tahun, Sayang

Dan sampailah kita di hari ini Sayang, di satu momen istimewamu yang sungguh ingin kulewatkan dengan mengecup keningmu dan memandang dalam-dalam pada dua bening matamu seraya mengucapkan selamat ulang tahun.

Di jarak yang terentang dan jeda waktu yang panjang, kubisikkan doa di hening sujudku pada Sang Pemilik Semesta,  agar Ia senantiasa membentangkan jalan rahmat dan kasih dalam tiap langkah yang akan kau buat esok hari, melimpahkan berkah dan memberimu kemampuan untuk  senantiasa bersyukur dan bersabar dalam menghadapi segala hal yang menyulitkan dan memberatkan. Semoga kau senantiasa dalam penjagaan-Nya ketika penjagaanku tak mampu menjangkaumu,  dan selalu dikasihi dan disayangi -Nya ketika kasih dan sayangku tak terjamah inderamu saat ini.

Mudahkan segala sesuatu untuknya Ya Allah, lindungilah ia dimanapun ia berada, dan bimbinglah ia senantiasa sepanjang masa. Amien.

Selamat ulang tahun, Sayang. Banyak doa dan cinta untukmu :*

Jakarta, 18 Agustus 2011, 00.00 WIB

About Missing You

I miss you. Badly.

 

Jakarta, diwaktu Indonesia bagian galau.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 612 other followers