Selepas senja, rintik pertama terlihat dari balik ruang kaca. Ada sebaris rindu menyergap seketika, menyelinap di relung paling dalam dan berhasil membuatku tertegun dalam diam. Seandainya ada kamu disini, pasti akan segera kutarik tanganmu dan mengajakmu berlari kecil menuju kedai kopi di sudut jalan. Menikmati hujan dan tiap rintiknya sembari tertawa-tawa, menyesap secangkir teh manis hangat beraroma apel dan bercerita tentang apa saja yang sudah kita lalui hari ini. Sesekali akan kamu arahkan viewfinder kameramu ke arah orang-orang yang berlarian menuju tempat teduh. “Ini momennya bagus”, pasti begitu katamu. Dan aku tetap dengan cangkir tehku, menatap lekat dan mencoba merekam setiap perubahan air mukamu tiap kali kamu berhasil memotret momen yang menurutmu istimewa.
Tapi tentu saja,kita tidak berada di kedai kopi dan kamu tidak ada disini untuk menemaniku menikmati hujan. Hanya ada aku yang berdiri di sudut jendela, menatap ke langit dan bertanya apakah hujan juga menyapamu di seberang sana.
Di selepas senja, di deras hujan yang memaksaku bergegas pulang, mendadak semua tentangmu berputar teratur serupa rangkaian frame yang diputar satu demi satu. Jaket merah hitam. Kamera. Kacamata. Kaos hitam. Parfum favorit. Running shoes. Dan setiap detil raut wajahmu.
Jakarta, October 2011.
photo taken from: http://favim.com/image/20429/

Ah, romantis.
Jadi inget zaman2 pacaran dulu
hihihi, sampe sekarang juga masih romantis kan mbak
Enak tuh hujannya
kunjungan dan komentar balik ya gan
salam perkenalan dari
http://diketik.wordpress.com
sekalian tukaran link ya…
semoga semuanya sahabat blogger semakin eksis dan berjaya.
hwa… nyentuh banget!
hujan, senja, kafe, gue banget. hehe
hahaha, penyuka hujan juga ternyata
hwaaaa..suka ceritanya.
hujan, senja, kedai kopi dan lelaki si pemegang kamera.
*langsung mengenang*
eh iya, salam kenal yah mbak!
hihihi, salam kenal juga yaa.. thanks komennya