A Thank You Note

It was one fine morning when the sun shining brightly, after days of endless rain and cold weather. And it was me trying hard dealing with my roller coaster mood. I already had my period this month, so I guess it wasn’t because of the premenstrual syndrome and I just had no clue of why I was being cranky and spilled out nonsense words at all things.

The level of my crankiness was getting worse as I found myself  crying sadly over a simple things. It took almost half of my morning hours until I spoke to you, and I had no idea of how could you easily made stop crying. I am sure it wasn’t because of you calming me down with a sugar-coating words. I knew as well that whatever you have said, it wasn’t intended to please me.

I guess, it was because of the frank yet honest statement you’ve said that made me see everything clearly, and simpler, and in the end I found out that all of your statements was right. And I just stopped crying afterwards.

“I’m selfish, impatient and a little insecure. I make mistakes, I am out of control and at times hard to handle. But if you can’t handle me at my worst, then you sure as hell don’t deserve me at my best.”
Marilyn Monroe

During the times we have spent, you have proven yourself to be the one who can handle me at my worst, and I am sure as hell that you deserve me at my best.

Thank you, dear :*

Tentang 2011

Sudah beberapa hari sejak tahun 2011 berlalu, dan saya masih ingat setiap detil kejadian yang saya lalui di tahun 2011 kemarin. Beberapa diantaranya memang meninggalkan bekas yang cukup dalam, tapi tentu saja pada akhirnya membuat hidup saya jauh lebih bermakna, dan berwarna.

It was a very rocky journey, but I managed to get through it and found the rainbow at the end :) . And I have the honor to say that I left 2011 proudly, full of loves and welcoming 2012 with a full heart.

Jakarta, early January 2012. 20:15 PM

Footprints

People come and go in life. Some of them left a beautiful memories, and some of them don’t.

Through times we learn to appreciate their presence, for they bring lesson we wouldn’t realize until they left. Some of them will remain as a good friend, while in the other hand we try so hard to forget the rest who happen to hurt us in every possible way.

They left their footprints in our heart. For a heart-reminder on how life has been so kind and generous to let us meet a lot of people. You might not realize how precious they were, until they left and you don’t have any chance just to say thank you. Thank you for all the smiles that you have shared, for all the tears you have gone through, and for the love you have found along the way.

Their footprints in our life is our treasury, the best thing in life we could ever had. For you can always remember that, in every good and bad times, you will always have somebody to share it with.

Jakarta, November 1st, 2011. 17:53 PM

picture is taken from here

Hujan Di Selepas Senja

Selepas senja,  rintik pertama terlihat dari balik ruang kaca.  Ada sebaris rindu menyergap seketika, menyelinap di relung paling dalam dan berhasil membuatku tertegun dalam diam. Seandainya ada kamu disini, pasti akan segera kutarik tanganmu dan mengajakmu berlari kecil menuju kedai kopi di sudut jalan. Menikmati hujan dan tiap rintiknya sembari tertawa-tawa, menyesap secangkir teh manis hangat beraroma apel dan bercerita tentang apa saja yang sudah kita lalui hari ini. Sesekali akan kamu arahkan viewfinder kameramu ke arah orang-orang yang berlarian menuju tempat teduh. “Ini momennya bagus”, pasti begitu katamu. Dan aku tetap dengan cangkir tehku, menatap lekat dan mencoba merekam setiap perubahan air mukamu tiap kali kamu berhasil memotret momen yang menurutmu istimewa.

Tapi tentu saja,kita tidak berada di kedai kopi dan kamu tidak ada disini untuk menemaniku menikmati hujan. Hanya ada aku yang berdiri di sudut jendela, menatap ke langit dan bertanya apakah hujan juga menyapamu di seberang sana.

Di selepas senja, di deras hujan yang memaksaku bergegas pulang, mendadak semua tentangmu berputar teratur serupa rangkaian frame yang diputar satu demi satu. Jaket merah hitam. Kamera. Kacamata. Kaos hitam. Parfum favorit. Running shoes. Dan setiap detil raut wajahmu.

Jakarta, October 2011.

photo taken from: http://favim.com/image/20429/

Tentang Kamera Pertama

It is simply another dream coming true :) .

Setelah sekian lama menabung dan menabung, sampai (seringkali) dana yang disiapkan terpakai untuk keperluan lain, akhirnya saya berhasil mewujudkan salah satu impian saya, memiliki kamera DSLR sendiri *nyengir*.

Nikon D90 adalah pilihan saya, jangan tanya kenapa karena hanya kamera itu yang ada dalam pikiran saya, walaupun dengan kemampuan saya memotret yang berada di level terendah, memiliki kamera DSLR dengan kemampuan seperti Nikon D90 membuat saya tampak kedodoran, hahahaha.

Setelah mengecek dan membandingkan harga di beberapa tempat, akhirnya dengan ditemani si mas, saya membeli kamera pertama saya di Jogja. Kagok dan ndeso adalah reaksi pertama saya ketika pertama kali memegang bodi kamera dan menekan shutter untuk membidik objek. Foto pertama saya jaaauuuhhh dari sempurna, blur dan over exposure (jangan tanya artinya :p).  Foto kedua miring, hahaha, tapi untungnya si mas sabar, walaupun sambil manyun dan mecucu dia mengoreksi foto saya :D . Untungnya si mas pengguna nikon juga, jadi dia adalah tempat bertanya dan konsultan fotografi gratisan buat saya, hehehe..

Model dadakan yang jadi sasaran bidikan saya pastinya mama dan benda2  di sekeliling saya, mulai dari tanaman dan bunga-bunga di taman depan rumah, tempayan di kolam ikan, pohon jambu, sampai ketupat sayur yang sedang dilahap ayah :) .

Foto2 pertama saya yang ala kadarnya menjadi semacam inisiasi, dan bukan hanya tentang membidik tetapi bagaimana saya belajar mengenal si kamera, mengetahui semua fungsi tombol yang ada ditubuhnya, dan menajamkan sensitifitas saya untuk menangkap momen2 unyu di sekeliling saya :D . Satu lagi, ini adalah tentang bagaimana mewujudkan mimpi, dan bersabar dalam setiap langkah untuk menjadikannya nyata. Memiliki DSLR itu sebenarnya resolusi saya sejak tahun 2008, tapi baru dieksekusi di 2011,haha. Lamanya penantian ga jadi masalah, yang penting akhirnya punya :D

Jadi, hunting kemana kita sekarang?  :D

Selamat Ulang Tahun, Sayang

Dan sampailah kita di hari ini Sayang, di satu momen istimewamu yang sungguh ingin kulewatkan dengan mengecup keningmu dan memandang dalam-dalam pada dua bening matamu seraya mengucapkan selamat ulang tahun.

Di jarak yang terentang dan jeda waktu yang panjang, kubisikkan doa di hening sujudku pada Sang Pemilik Semesta,  agar Ia senantiasa membentangkan jalan rahmat dan kasih dalam tiap langkah yang akan kau buat esok hari, melimpahkan berkah dan memberimu kemampuan untuk  senantiasa bersyukur dan bersabar dalam menghadapi segala hal yang menyulitkan dan memberatkan. Semoga kau senantiasa dalam penjagaan-Nya ketika penjagaanku tak mampu menjangkaumu,  dan selalu dikasihi dan disayangi -Nya ketika kasih dan sayangku tak terjamah inderamu saat ini.

Mudahkan segala sesuatu untuknya Ya Allah, lindungilah ia dimanapun ia berada, dan bimbinglah ia senantiasa sepanjang masa. Amien.

Selamat ulang tahun, Sayang. Banyak doa dan cinta untukmu :*

Jakarta, 18 Agustus 2011, 00.00 WIB

About Missing You

I miss you. Badly.

 

Jakarta, diwaktu Indonesia bagian galau.

Breath The Silence

There are times in life when everything goes blurry and you can’t find where you’re standing at. You can’t find anything that you can hold or a tools to help you walk through the darkness. It’s the cold air on your naked skin, the fear that suddenly fills up every veins, and the silence that brings undefinable loneliness inside your heart.

Do you ever feel already buried deep
Six feet under scream

But no one seems to hear a thing (Katy Perry ~ Firework)

And at the same time, the world goes round like it used to be. Sun rising, birds chirping, people walking in a rush, cars honking, phone ringings, and you still feel the deep silence within. You are dragged here and there by the crowd and all you want is just a quiet moment where there are only you, and your heart.

To think nothing but silence.  Smell nothing but silence, and breath nothing but silence.

There are times when you are longing for a very quiet moment of thinking that would indulge your every senses, so you can finally find how to put every pieces back in the place where they belong.

And there are times in life when you feel that constant silence, so you would have enough time to blame yourself for being such silly, for being not understandable and being childish at the same time.

Don’t worry, dear. There are times when people whom do you think is the happiest person on earth and would never (seen) feeling sad, will experience the same.

And don’t worry, dear. You won’t be in the loneliness forever, as the sound of the last rain drop on your roof house will break  the silence. By the time it’s coming,  let’s hold my hands and we’ll go to the place where the sun rising beautifully, together.

 

Jakarta, 5.13PM. Heading to weekend.

 

The Unknown

The unknown wasn’t always the greatest thing to fear. (taken from tumblr by Sarah Dessen)

Di satu jeda makan siang yang riuh rendah ketika saya sedang terburu-buru menyiapkan diri untuk mengikuti rapat pertengahan tahun, dan pandangan mata saya tertumbuk pada satu kalimat diatas di laman tumblr saya.  Satu kalimat sederhana yang berhasil membuat saya berpikir sampai beberapa saat setelahnya, bahwa benar the unknown, -situasi dimana semua serba tidak pasti dan absurd itu bukanlah hal paling besar yang harus ditakuti.  Ketakutan terbesar buat saya justru ketika saya harus melangkah pertama kali ke dalam the unknown itu. Ke dalam situasi dimana semuanya gelap dan ada berjuta kemungkinan disana, ada kemungkinan merasakan kebahagiaan berkali lipat dibandingkan sebelumnya, dan ada pula kemungkinan untuk terpeleset, jatuh dan merasakan sakit yang lebih dalam. Melangkah bukan hanya tentang menjejakkan kaki, tetapi juga menyiapkan diri untuk menjalani segala  kondisi terbentang di hadapan -apapun itu- dan menerimanya sepenuh hati.

Tidak pernah akan cukup bekal untuk menemani selama berada di dalam the unknown, seperti halnya kita yang tidak akan pernah tahu apa yang akan kita hadapi di depan sana. Setiap momen hidup adalah sesuatu yang absurd, tetapi sesungguhnya sudah terencana dengan sangat sempurna, dan sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Pemilik Hidup. Jatuh adalah proses yang alamiah, seperti halnya kembali bangkit setelah jatuh juga merupakan naluri dasar manusia.

Dalam keterbatasan saya sebagai manusia, tentu saja dibutuhkan keberanian untuk jatuh dan bangkit lagi, tetapi justru dengan itulah kita akan merasakan hidup yang sebenar-benarnya. Ketika hidup berada dalam waktu yang paling unyu sekalipun, akan selalu ada tangan-tangan yang siap menopang, serupa jaring pengaman yang akan menjagamu dari terhempas bebas ke tanah, dan ketika tiba dimasa kita berdiri tegak, waktu yang telah terlewati dalam likunya yang paling absurd sekalipun akan tampak seperti gambar berpola sederhana yang sama sekali tidak rumit. Hanya sesederhana itu.

 Jadi, siapa takut? :)

Meminjam quotes favorit kakak perempuan tersayang @saktisoe: Ever tried. Ever failed. No matter. Try again. Fail again. Fail better.

Jakarta, 18:17 PM. Minutes before heading home.

You Found Me


Just a little late, and then you found me :)

 

picture is taken from http://bit.ly/lnZIt4

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 573 other followers